Lenovo Pasang Kanvas Digital di Laptop Yoga Book

Lenovo meluncurkan perangkat hibrida yang tak cuma menggabungkan fungsi laptop dan tablet, melainkan juga kanvas digital di laptopnya. Perangkat tersebut oleh Lenovo diberi nama Yoga Book.

Produk yang diluncurkan bersamaan dengan ajang IFA 2016 di Jerman tersebut bisa dibilang sebagai inisiator dalam inovasi ini, sebagaimana dilaporkan TheVerge dan dihimpun KompasTekno, Jumat (2/9/2016).

Seperti lini Yoga lainnya, tubuh Yoga Book juga bisa dilipat ke depan dan ke belakang. Ketika dilipat ke belakang, Yoga Book bakal menjalankan fungsi pertama sebagai tablet.

Untuk fungsi kedua sebagai laptop, pengguna cukup membuka layar hingga 45 derajat layaknya membuka laptop standar. Selanjutnya, pengguna bisa mengetik seperti biasa pada keyboard Yoga Book yang berfungsi ganda.

Keyboard itu tak berbentuk fisik, melainkan tombol halus alias soft button. Nah, fungsi ketiga dimungkinkan inovasi pada keyboard tersebut.

Lenovo menyebut keyboard itu sebagai Create Pad. Landasan yang dibuat Wacom tersebut mampu berfungsi sebagai kanvas digital atau note digital. Untuk mencoretkan karya seni atau menulis catatan harian, Anda bisa memanfaarkan Stylus yang tersedia.

Pensil digital itu diklaim super sensitif sehingga pengguna bisa merasa benar-benar seperti menggambar atau menulis di atas kanvas atau kertas.
TheVerge
Lenovo Yoga Book
Spesifikasi

Lenovo menghadirkan Yoga Book dalam dua varian berdasarkan sistem operasi. Varian pertama berjalan dengan Android Marshmallow dan dijual seharga 499 dollar AS atau setara Rp 6,6 jutaan.

Sementara itu, varian kedua yang menjalankan OS Windows 10 dipatok lebih mahal, yakni 549 dollar AS atau sekitar Rp 7,2 juta. Kedua versi memiliki kemampuan terhubung dengan internet melalui jaringan LTE.

Soal baterai, Lenovo mengatakan versi Android bisa bertahan hingga 15 jam, sementara versi Windows bertahan rata-rata 13 jam dengan pemakaian standar. Asumsi itu berangkat dari kapasitas baterai 8.500 mAh yang tersemat pada Yoga Book.

Spesifikasi lainnya mencakup layar 10/11 inci resolusi 1920×1200 piksel, RAM 4 GB, prosesor Intel Atom 5x, dan penyimpanan 64 GB. Anda bisa menambah kapasitas penyimpanannya dengan microSD.

Belum diketahui kapan Yoga Book akan dipasarkan Lenovo, terlebih untuk pengguna di Tanah Air.

Galaxy J2 DTV, Android Rp 2 Juta untuk Nonton TV

Samsung meluncurkan ponsel pertamanya yang dilengkapi fitur penangkap siaran televisi (TV Tuner). Bertajuk “Galaxy J2 DTV”, ponsel 4,7 inci itu memungkinkan pengguna menonton siaran televisi di mana saja dan kapan saja.

Di beberapa negara, inisiasi Samsung bisa dibilang tak menarik. Pasalnya, masyarakat modern telah bermigrasi ke layanan on-demand semacam Netflix untuk menonton serial, film, atau dokumenter.

Lantas, untuk siapa Galaxy J2 DTV? Dilansir KompasTekno, Jumat (2/9/2016) dari PhoneArena, ponsel kelas menengah ke bawah itu menyasar negara-negara dunia ketiga dengan koneksi internet yang belum memadai.

Lebih spesifik, J2 DTV diperuntukkan bagi masyarakat Filipina. Pasalnya, negara tetangga tersebut memiliki layanan internet paling buruk di Asia menurut laporan Forbes.

Mekanisme streaming konten seperti Netflix, iFlix, Hulu, dan sebangsanya belum bisa dijajal maksimal di Filipina. Karenanya, tayangan televisi masih mendominasi kebutuhan hiburan di sana.

Seperti seri Galaxy J lainnya, J2 DTV memiliki spesifikasi standar dengan harga ramah di kantong. Ponsel tersebut diotaki chipset Exynos 3457 dengan prosesor berkecepatan 1,3 GHz, RAM 1 GB, memori internal 8 GB yang bisa ditambah microSD, serta kamera 5 megapiksel (utama) dan 2 megapiksel (selfie).

Baterainya berkapasitas 2.000 mAh dan layarnya mengusung materi super AMOLED beresolusi 960p. Ponsel itu berjalan pada sistem operasi Android Marshmallow.

Untuk semua spesifikasi tersebut, Galaxy J2 DTV dipatok 150 dollar AS atau sekitar Rp 1,9 juta.

Video Detik-detik Meledaknya Roket Pembawa Satelit Facebook

Satelit AMOS-6 milik Facebook hancur setelah roket pembawanya, Falcon 9, meledak pada Kamis (1/9/2016) lalu.

AMOS-6 meledak bersama dengan roket Falcon 9 di darat saat uji static fire (menyalakan pendorong tanpa meluncur) di Cape Canaveral, Florida, AS.

Falcon 9 sendiri dikembangkan dan dibuat oleh Space Exploration Technologies Corporation atau lebih dikenal dengan nama SpaceX.

Sementara itu, AMOS-6 merupakan satelit penyebar internet gratis milik Facebook. Rencananya, satelit ini akan diorbitkan untuk menghubungkan masyarakat di Afrika dengan internet. Proyek ini sejalan dengan inisiasi internet gratis untuk semua dari Facebook yang diberi nama Internet.org.

Baca: Satelit Facebook Ikut Meledak, Ini Kata Zuckerberg

Namun, misi Facebook harus terhenti untuk sementara karena kejadian tersebut.

Menurut SpaceX, penyebab meledaknya roket adalah anomali atau kesalahan teknis yang terjadi di unit launch pad, yakni unit penopang roket untuk meluncur.

“Roket dan beban berbayarnya (satelit yang dibawa) hilang (hancur),” begitu pernyataan SpaceX, sebagaimana dilaporkan BusinessInsider dan dihimpun KompasTekno, Jumat (2/9/2016).

Roket Falcon 9 sendiri didesain agar bisa mendarat kembali begitu selesai dipakai mengantar satelit ke orbit Bumi, untuk dipakai pada program peluncuran berikutnya.

Beberapa percobaan yang dilakukan sebelumnya oleh SpaceX menunjukkan hasil positif. Roket berhasil meluncur dan mendarat kembali di sebuah tongkang di tengah laut.

SpaceX adalah perusahaan dirgantara AS yang memberikan layanan transportasi luar angkasa.

Pendirinya adalah Elon Musk, miliarder yang juga berada di balik perusahaan mobil listrik Tesla dan platform pembayaran online PayPal.

Resmi, Sony Rilis Duo Xperia X dengan Kamera 23 Megapiksel

Memanfaatkan ajang IFA 2016 yang tengah berlangsung di Berlin, Jerman, Sony memperkenalkan duo smartphone Android baru dari seri Xperia X. Keduanya adalah Xperia XZ dan Xperia X Compact.

Keduanya tampil kompak dengan sama-sama menggunakan kamera utama 23 megapiksel.

Xperia XZ merupakan penerus dari Xperia X. Spesifikasinya mirip dengan Xperia X Performance yang dirilis Juli lalu, mencakup prosesor Snapdragon 820, RAM 3 GB, serta kamera 23 megapiksel dan kamera depan 13 megapiksel.

Hanya saja, seperti dirangkum KompasTekno dari PhoneArena, Jumat (2/9/2016), Sony menyematkan layar yang berukuran lebih besar di Xperia XZ, yakni 5,2 inci (berbanding 5 inci di Xperia X Performance).

Untuk resolusi layar, Sony masih bertahan dengan full HD (1.920 x 1.080) untuk Xperia XZ. Flagship baru ini turut ditambahi dukungan konektor USB Type-C yang mulai banyak diadopsi.

Kapasitas baterai Xperia XZ yang anti-air dan debu dengan sertifikasi IP68 ini sedikit ditingkatkan menjadi 2.900 mAh, ditambah dukungan pengisian cepat Quick Charge 3.0.

Bentuk fisiknya kini lebih halus dengan pinggiran-pinggiran yang membulat. Ada juga fingerprint scanner yang menyatu dengan tombol daya di sisi kanan.
Sony
Sony Xperia X Compact
Adapun Xperia X Compact merupakan versi “mini” dari Xperia X. Jeroannya mencakup prosesor Snapdragon 650, RAM 3 GB, layar 4,6 inci (1.280 x 720), serta kamera 23 megapiksel dan kamera depan 5 megapiksel.

Xperia XZ akan dirilis ke pasaran pada Oktober mendatang dalam tiga pilihan warna, sementara Xperia X Compact dijadwalkan masuk ke pasaran minggu depan, juga dalam tiga pilihan warna. Sony belum mengumumkan banderol harga kedua ponsel.

Samsung Rilis Galaxy J7 Versi Premium, Harganya?

Samsung Galaxy J7 yang dirilis pada Maret lalu diproyeksikan bagi segmen menengah. Kini, pabrikan Korea Selatan itu mulai menyasar segmen yang lebih premium dengan merilis Galaxy J7 versi baru.

Perangkat baru ini dinamakan Galaxy J7 Prime. Varian yang satu ini lebih ditingkatkan dari segi desain fisik hingga spesifikasi, sebagaimana dilaporkan PhoneArena dan dihimpun KompasTekno, Jumat (2/9/2016).

Jika Galaxy J7 dianggap cukup dengan balutan bodi plastik, varian Prime tampak elegan dengan lapisan logam di sekujur tubuhnya.

Tampilan 5,5 incinya pun sudah ditingkatkan menjadi full HD dengan resolusi 1080p. Sebelumnya, tampilan Galaxy J7 standar cuma beresolusi 720p.

Salah satu fitur yang ditambah adalah pemindai sidik jari alias fingerprint scanner. Kemampuan tersebut biasanya eksklusif untuk ponsel-ponsel premium.

Spesifikasi lainnya mencakup chipset Exynos 7870 octa-core bikinan Samsung sendiri dan dikombinasikan dengan RAM 3 GB.

Selain itu, ada penyimpanan internal berkapasitas 16 atau 32 GB, kamera belakang 13 megapiksel, kamera depan 8 megapiksel, dan baterai 3.300 mAh.

Untuk semua spesifikasi itu, Galaxy J7 Prime dibanderol 280 dollar AS atau senilai Rp 3,7 jutaan.

Untuk sementara, J7 Prime baru dipasarkan untuk masyarakat Vietnam. Belum jelas apakah produk itu eksklusif bagi negara padi atau bakal hadir pula di negara-negara lain termasuk Indonesia.

Satelit Facebook Ikut Meledak, Ini Kata Zuckerberg

Satelit penyebar internet gratis milik Facebook, AMOS-6, meledak bersama roket yang akan membawanya ke orbit. CEO Facebook Mark Zuckerberg angkat bicara soal peristiwa ini.

“Saya berada di Afrika saat ini dan sangat kecewa dengan kabar kegagalan peluncuran SpaceX yang menyebabkan hancurnya satelit kami,” ujarnya dalam sebuah status yang diunggah ke akun resmi Zuckerberg.

Namun Zuckerberg mengatakan tak akan menghentikan usahanya mewujudkan internet yang diklaim lebih murah dan menjangkau banyak orang.

Mereka masih memilik proyek lain, seperti Aquilla, yang merupakan proyek penyebar sinyal internet menggunakan drone bertenaga matahari.

“Satelit itu rencananya akan dipakai untuk menyebarkan internet ke seluruh benua (Afrika). Untungnya, kami punya teknologi lain, seperti Aquilla, yang juga bisa menghubungkan orang ke internet,” imbuhnya.

“Kami akan tetap berkomitmen memberikan akses internet kepada semua orang. Dan kami akan tetap bekerja hingga semua orang bisa mendapatkan kesempatan yang mestinya tercipta melalui satelit ini,” lanjut Zuckerberg.

Baca: Satelit Penyebar Internet Gratis Facebook Meledak

Sebagaimana laporan yang dihimpun KompasTekno dari Space.com, Jumat (2/9/2016), raksasa media sosial itu berencana memakai satelit AMOS-6 untuk menyebarkan internet murah atau gratis di wilayah Afrika sub-sahara. Ini merupakan bagian dari program Internet.org.

AMOS-6 merupakan satelit geostasioner. Roket Falcon 9, milik SpaceX, disewa untuk meluncurkan satelit itu ke orbitnya.

Sayangnya, dalam uji coba static fire (menyalakan pendorong tanpa meluncur), roket tersebut meledak. Uji coba dilakukan pada Kamis (1/9/2016) waktu setempat, di Cape Canaveral, Florida, Amerika Serikat (AS).

Dugaan sementara menyebut bahwa ledakan tersebut disebabkan anomali pada launch pad atau bangunan pendukung peluncuran.

Satelit tersebut bernilai 195 juta dollar AS atau sekitar Rp 2,5 triliun. Pemiliknya adalah perusahaan Space Communication. Facebook bersama Eutelsat memiliki kontrak untuk memakai dan mengelola satelit tersebut selama lima tahun.

Tarif Baru Interkoneksi Ditunda, Pemerintah Bebaskan Operator

Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemenkominfo) menunda pemberlakuan tarif interkoneksi yang baru. Sebagai gantinya, operator dibebaskan untuk menggunakan acuan tarif lama atau yang baru.

Penundaan tersebut disampaikan oleh Plt Kepala Pusat Informasi dan Humas Kemenkominfo, Noor Iza. Di dalamnya, diumumkan bahwa penundaan dilakukan karena ada operator yang belum mengumpulkan Dokumen Penawaran Interkoneksi (DPI), sehingga operator dipersilakan memakai acuan lama.

“Direktorat Jenderal Penyelenggara Pos dan Informatika (Ditjen PPI) telah melakukan komunikasi kepada Penyelenggara dimaksud dan menyampaikan bahwa saat ini DPI belum lengkap terkumpul, sehingga penyelenggara dipersilahkan menggunakan acuan yang lama,” ujar Noor kepada KompasTekno, Kamis (1/9/2016) lalu.

“(Dipersilakan) maksudnya boleh dua-duanya, memakai acuan lama atau acuan sesuai surat edaran (baru) itu boleh,” imbuhnya.

Acuan lama artinya operator kembali pada tarif interkoneksi Rp 250 per menit panggilan telepon. Sedangkan acuan baru, merujuk ada Surat Edaran (SE) No. 1153/M.Kominfo/PI.0204/08/2016, adalah Rp 204 per menit panggilan telepon.

Anggota Badan Regulasi Telekomunikasi Indonesia (BRTI) bidang Hukum, I Ketut Prihadi Kresna, juga menegaskan hal serupa. Menurutnya, karena ada surat dari Ditjen PPI tersebut, maka operator bebas saja memilih antara acuan tarif lama atau acuan tarif baru.

“Dalam kesepakatan para operator yang saat ini masih berlaku disebutkan, jika belum ada kesepakatan baru, dapat menggunakan kesepakatan existing. Artinya tarif existing dapat digunakan,” ujar Ketut.

“Dengan adanya surat Dirjen PPI, sekarang sudah ada referensi baru, tapi belum ada kesepakatan. Namun jika ada (operator) yang sepakat menggunakan referensi baru, silakan juga digunakan,” pungkasnya.

Sebelumnya, Kemenkominfo mengumumkan penundaan SE No. 1153/M.Kominfo/PI.0204/08/2016 yang memuat penurunan tarif interkoneksi rata-rata 26 persen pada 18 skenario panggilan, baik telepon maupun SMS.

Penundaan dilakukan karena ada dua operator yang belum mengumpulkan DPI, yaitu Telkom dan Telkomsel. Selain itu, Kemenkominfo juga menunggu dilaksanakannya Rapat Dengar Pendapat kedua dengan Komisi 1 Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) yang diagendakan pekan depan.

Telkom dan Telkomsel keberatan dengan perhitungan tarif baru yang turun 26 persen itu. Mereka pun mengaku telah beberapa kali mengirimkan surat keberatan, namun tak pernah mendapatkan jawaban.

Sementara itu, Indosat, XL, Hutchison Tri Indonesia, dan Smartfren telah mengumpulkan DPI berdasarkan acuan tarif baru interkoneksi. Terkait penundaan SE, masing-masing operator tersebut mengaku belum mendapatkan surat penundaan resmi dari pemerintah.

Indosat dan XL mengaku kecewa dengan penundaan. Keduanya akan mengirimkan surat pada BRTI dan mendesak untuk segera menyelesaikan proses pengumpulan DPI sehingga masing-masing operator bisa ke langkah selanjutnya, yaitu membuat perjanjian kerja sama.

Untuk diketahui, interkoneksi adalah tarif yang dibayarkan antar operator. Tarif ini dikenakan saat ada pengguna satu operator yang menghubungi operator lain, misalnya operator A untuk menelepon operator B.