Soal Interkoneksi, Telkom dan Telkomsel Belum Kirim DPI

Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemenkominfo) mengatakan tinggal dua operator saja yang belum menyerahkan dokumen penawaran interkoneksi (DPI), yaitu Telkom dan Telkomsel.

“Sebagian operator telah sampaikan DPI termasuk terakhir, kemarin, Smartfren,” terang Plt Kepala Pusat Informasi dan Humas Kemenkominfo, Noor Iza kepada awak media, Kamis (1/9/2016).

Sementara itu, XL, Hutchinson Tri Indonesia dan Indosat, saat dihubungi KompasTekno, masing-masing mengatakan telah mengumpulkan DPI.

“(Yang belum menyerahkan) Telkom dan Telkomsel,” lanjut Noor ketika ditanya operator mana yang belum menyerahkan DPI tersebut.

Perubahan tarif ditunda

Saat merilis Surat Edaran (SE) No. 1153/M.Kominfo/PI.0204/08/2016 yang memuat perhitungan baru tarif interkoneksi pada awal Agustus lalu, Kemenkominfo juga meminta seluruh operator untuk menyerahkan DPI paling lambat 1 September 2016.

SE tersebut mencantumkan penurunan rata-rata 26 persen untuk 18 skenario panggilan, baik telepon atau SMS. Salah satunya adalah panggilan telepon yang turun menjadi Rp 204 per menit, dari angka sebelumnya Rp 250 per menit.

Namun hingga awal September ini, masih ada operator yang belum menyerahkan DPI-nya. Pemerintah pun merilis pemberitahuan untuk menunda pemberlakukan perhitungan baru, agar para operator mengacu ke perhitungan lama.

Baca: 5 Surat Keberatan Telkomsel soal Interkoneksi Belum Direspons Kominfo

“Dirjen Penyelenggaraan Pos dan Informatika telah melakukan komunikasi kepada penyelenggara dan menyampaikan bahwa DPI belum lengkap terkumpul, sehingga penyelenggara dipersilakan menggunakan acuan yang lama,” ujar Noor.

Selain soal DPI, Kemenkominfo juga mengatakan penundaan SE itu sesuai dengan hasil simpulan pada Rapat Dengar Pendapat (RDP) dengan Komisi 1 Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) pada Rabu (24/8/2016) lalu.

Dalam RDP pertama itu, Komisi 1 meminta agar Menkominfo Rudiantara menunda implementasi tarif interkoneksi baru hingga bicara ke semua operator dan menuntaskan RDP kedua.

Baca: Menkominfo Diminta Pelan-pelan Tangani Keberatan Tarif Interkoneksi

RDP kedua sebelumnya dijadwalkan untuk hari Selasa (30/8/2016). Namun agenda tersebut batal karena berbenturan dengan Sidang Paripurna.

Sebagai gantinya, Komisi 1 DPR akan menjadwalkan pertemuan berikutnya pada pekan depan, setelah Rudiantara selesai melakukan tugas kunjungan ke luar negeri.

Beredar, Bocoran Harga Asus Zenfone 3 di Indonesia

Asus baru akan merilis secara resmi smartphone Android terbarunya, Zenfone 3, di Indonesia pekan depan. Akan tetapi, bocoran harga smartphone Android tersebut sudah beredar di sebuah forum online di Tanah Air.

Berdasarkan diskusi di sebuah thread pada forum tersebut, Asus akan langsung merilis lima varian Zenfone 3. Varian-varian tersebut antara lain Zenfone 3 (standar), Zenfone 3 Deluxe, Zenfone 3 Ultra, Zenfone 3 Max, dan Zenfone 3 Laser.

Kelima varian itu memiliki desain fisik yang sedikit berbeda. Perbedaannya terletak dari segi spesifikasi, fitur, dan desain. Spesifikasi yang paling rendah adalah Zenfone 3 Max, yang dijual dengan banderol harga termurah di antara semua versi.

Baca: Tiga Zenfone 3 Baru Asus Meluncur, Ini Spesifikasinya

Sedangkan, versi teratas dipegang oleh Zenfone 3 Deluxe yang dilengkapi dengan chipset Snapdragon 821, RAM 6 GB, dan media penyimpanan 256 GB. Perangkat yang satu ini dijual dengan harga Rp 12 juta.

Ist
Harga Zenfone 3 yang bocor di dunia maya.
Zenfone 3 baru akan dalam sebuah acara di Bali pada 7 September mendatang dan Asus sendiri belum merilis secara resmi harga perangkat tersebut.

Baca: Menjajal Android RAM 6 GB, Zenfone 3 di Taiwan

Berikut daftar harga Zenfone 3 yang diduga resmi dari Asus seperti dibocorkan oleh sumber.

Zenfone 3

Layar FHD (Full HD 1080p) 5,2 inci, RAM 3 GB/Penyimpanan 32 GB: Rp 4.099.000
Layar FHD 5,2 inci, RAM 4 GB/Penyimpanan 64 GB: Rp 4.399.000
Layar FHD 5,5 inci, RAM 4 GB/Penyimpanan 64 GB: Rp 5.099.000

Zenfone 3 Deluxe

Layar FHD 5,7 inci, Snapdragon 821, RAM 6 GB/Penyimpanan 256 GB: Rp 11.999.000
Layar FHD 5,7 inci Snapdragon 820 RAM 4 GB/Penyimpanan 64 GB: Rp 9.999.000

Zenfone 3 Ultra

Layar FHD 6,8 inci, RAM 4 GB/Penyimpanan 64 GB: Rp 8.099.000

Zenfone 3 Max

Layar HD (High Definition 720p) 5,2 inci, RAM 2 GB/Penyimpanan 16 GB: Rp 2.199.000
Layar HD 5,2 inci, RAM 3 GB/Penyimpanan 32 GB: Rp 2.399.000

Zenfone 3 Laser

Layar FHD 5,5 inci, RAM 4 GB/Penyimpanan 32 GB: Rp 3.399.000

Sekali lagi yang harus diperhatikan, daftar harga Zenfone 3 di atas didapat dari sumber di dunia maya, bukan resmi dari Asus Indonesia. Jadi informasinya bisa saja tidak sesuai dengan banderol resmi yang akan diumumkan Asus pekan depan.

Update: Zenfone 3 resmi diluncurkan pada Rabu (7/9/2016) di Nusa Dua, Bali. Asus pun langsung mengumumkan harga Zenfone 3 di Indonesia. Banderol harganya jika dibanding bocoran ada perbedaan namun ada juga yang sama. Selengkapnya simak di Daftar Harga Resmi Asus Zenfone 3 di Indonesia

Qualcomm Sesumbar Snapdragon 821 Lebih Cepat 10 Persen

Qualcomm menjabarkan detail lebih lanjut terkait chipset flagship barunya, Snapdragon 821. Prosesor itu pertama kali diperkenalkan pada Juli 2016.

Snapdragon 821 diproyeksikan sebagai chipset generasi mendatang dengan peningkatan performa dan fungsi, sebagaimana dilaporkan Engadget dan dihimpun KompasTekno, Kamis (1/9/2016).

Performa CPU pada Snapdragon 821 diklaim meningkat 10 persen. Pengguna bisa membuka aplikasi dan melakukan berbagai perintah lain dengan lebih cepat dibandingkan pendahulunya, Snapdragon 820.

“Pengguliran (scrolling) lebih mulus dan performanya lebih responsif ketika berselancar di peramban (browser),” kata perwakilan Qualcomm.

Selain itu, performa chipset grafis (GPU) juga disebut meningkat 5 persen. Hal ini diharapkan dapat membantu pertumbuhan ekosistem digital baru seperti virtual reality (VR)

“(Snapdragon 821) mendukung kualitas visual dan audio yang superior. Pengalaman virtual reality dan bermain game juga lebih mendalam,” Qualcomm menjelaskan.

Fitur lain pada Snapdragon 821 adalah PDF alias phase detection auto-focus. Fitur tersebut memungkinkan kamera smartphone menangkap fokus objek dengan lebih cepat dan akurat.

Ponsel pertama yang bakal menggunakan Snapdragon 821 adalah Asus ZenFone 3 Deluxe. Qualcomm belum mengungkap nama perangkat lain, namun tampaknya bakal terkuak pada ajang IFA 2016 di Berlin, Jerman, beberapa hari lagi.

Ini Alasan Telkomsel Belum Serahkan DPI

Direktur Utama Telkomsel Ririek Adriansyah mengonfirmasi pihaknya belum menyerahkan Dokumen Penawaran Interkoneksi (DPI), seperti yang disampaikan oleh Plt Kepala Pusat Informasi dan Humas Kemenkominfo, Noor Iza, Kamis (1/9/2016).

Menurut Ririek, hal itu dikarenakan pihaknya belum mendapatkan jawaban atau surat balasan tertulis perihal keberatan Telkomsel soal acuan tarif baru interkoneksi. Surat tersebut ditujukan kepada Menteri Telekomunikasi dan Informatika.

“Hal ini Telkomsel rasa perlu, untuk menegakkan asas tata kelola pemerintahan yang baik dan transparan,” ujar Ririek dalam keterangan tertulis kepada KompasTekno, Kamis (1/9/2016).

Baca: 5 Surat Keberatan Telkomsel soal Interkoneksi Belum Direspons Kominfo

Untuk itu, Telkomsel menegaskan akan tetap menggunakan biaya interkoneksi lama, yang disepakati dalam perjanjian dengan operator lain yang berlaku saat ini tertera dalam pasal 18 PM 8 Tahun 2006.

Hal itu akan tetap dilakukan Telkomsel hingga pemerintah mengumumkan hasil perhitungan biaya interkoneksi masing-masing operator, sebagai dasar acuan kesepakatan industri dalam membuat penawaran interkoneksi pada DPI masing-masing.

Telkomsel mengharapkan agar pemerintah yang diwakili Kementerian Kominfo segera menyampaikan pemberitahuan resmi tertulis atas penundaan ini yang ditujukan kepada semua operator.

Telkomsel tetap menegaskan pihaknya mendukung regulasi yang mengedepankan fairness dan transparan untuk kemajuan industri telekomunikasi nasional.

Baca: Operator Bisa Terapkan Tarif Baru Interkoneksi Tanpa Peraturan Menteri?

Selain itu, Telkomsel mendorong regulasi yang mendukung pemerataan pembangunan hingga keseluruh pelosok NKRI demi kemanfaatan bagi seluruh rakyat Indonesia dan berkeadilan bagi pemangku kepentingan yang terlibat.

“Untuk saat ini, tarif retail yang murah saja tidak cukup bagi pelanggan, namun harus diimbangi dengan kualitas jaringan yang baik dan merata,” pungkas Ririek.

Resmi, Arloji Pintar Samsung Gear S3 Dijual Mulai Rp 5,9 Jutaan

Salah satu “primadona” di ajang IFA 2015 adalah Samsung Gear S2. Arloji pintar tersebut berpenampilan layaknya arloji normal untuk aktivitas sehari-hari.

Tahun ini, pada IFA 2016 yang kembali digelar di Berlin, Jerman, Samsung memperkenalkan penerus dari perangkat tersebut. Dinamakan Gear S3, jam tangan pintar ini hadir dalam dua varian, yakni Classic dan Frontier.

Kedua lini tersebut masih mempertahankan layar bulat yang dibingkai bezel. Beberapa fiturnya pun sama, hanya ada perbedaan kecil pada desain dan konektivitas.

Keduanya sama-sama dilengkapi prosesor 1 GHz dual-core dan RAM 758 MB. Baik Classic dan Frontier menjalankan sistem operasi Tizen.

Spesifikasi lainnya, kedua varian Gear S3 dibekali layar Super AMOLED berbentang 1,3 inci dengan dukungan resolusi 360 x 360. Ukurannya cukup besar, yakni 46 mm.

Layar ini juga masih dilindungi dengan kaca tangguh Gorilla SR+ buatan Corning.

Dimensi tersebut meningkat dari Gear S2 yang memiliki layar berbentang 1,2 inci dan ukuran 42 mm.

Diperbesarnya ukuran tersebut membuat Samsung lebih leluasa memperbesar baterai. Gear S3 dilengkapi baterai 380 mAh, melebihi Gear S2 dengan baterai 250 mAh.

Dua varian Gear S3 sudah memiliki kemampuan anti air dan anti debu bersertifikasi IP68. Samsung mengklaim dua lini teranyarnya sudah dites pada kondisi standar militer, mencakup temperatur tinggi dan rendah, serta vibrasi ekstrim.

Gear S3 Classic

Varian Classic yang merupakan penerus orisinil Gear S2 memiliki desain lebih minimalis, sebagaimana dilaporkan TheVerge dan dihimpun KompasTekno, Kamis (1/9/2016).

Tampilannya seperti arloji analog dengan tubuh berbalut stainless steel. Beberapa tombol berbalut metal diletakan pada sisian bingkai layar.

Bobotnya pun lebih ringan, yakni cuma sekitar 57 gram. Dari segi konektivitas, Classic mendukung Wi-Fi dan Bluetooth.

Gear S3 Frontier

Sementara itu, varian Frontier lebih garang dan ditujukan bagi Anda yang gemar berpetualang. Modelnya cocok untuk menemani aktivitas outdoor.

Tombol navigasinya menyatu sebagai tekstur bodi. Bobotnya pun lebih berat, yakni 62 gram. Soal konektivitas, Frontier sudah kompatibel dengan jaringan LTE melalui fitur NumberSync.

Fitur tersebut memungkinkan pengguna menerima dan mengirim SMS maupun telepon di arloji pintar dengan nomor yang sama pada ponsel.

Harga Gear S3 di Eropa dimulai 445 dollar AS atau setara Rp 5,9 jutaan. Belum jelas kapan perangkat itu bakal masuk ke Tanah Air.

XL Kecewa Ada Operator yang Belum Setor Dokumen Tarif Interkoneksi

XL Axiata (XL) dan Indosat Ooredoo (Indosat) menyatakan kekecewaannya soal sikap pemerintah yang terkesan tarik ulur terhadap penurunan tarif interkoneksi.

Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemenkominfo) telah mengumumkan penundaan berlakukan tarif interkoneksi baru dengan alasan ada operator yang belum mengumpulkan dokumen penawaran interkoneksi (DPI).

Alasan lain, belum digelarnya Rapat Dengar Pendapat (RDP) yang kedua antara Menkominfo dengan Komisi 1 DPR yang sedianya akan digelar pada Selasa (30/8/2016) lalu.

XL dan Indosat keberatan terhadap penundaan tersebut. Kedua operator telekomunikasi ini mengaku tidak menerima surat resmi terkait penundaan penerapan tarif baru interkoneksi.

“Kami kecewa. Kami akan segera menyurati Badan Regulasi Telekomunikasi Indonesia (BRTI), meminta operator yang belum kumpulkan DPI dapat segera menyerahkannya,” tutur Vice President Corporate Communication XL Turina Farouk kepada awak media, di Jakarta, Kamis (1/9/2016).

“Kalau begini, mau tak mau kami harus menunggu sampai ada pernyataan resmi dari pemerintah (mengenai tarif baru),” imbuhnya.

DPI (Dokumen Penawaran Interkoneksi), yang berisi skema, tarif, dan layanan interkoneksi suatu operator, mestinya diserahkan kepada pemerintah dalam tenggat waktu tertentu. Namun saat ini, baru Indosat, XL, Hutchison Tri Indonesia, dan Smartfren yang menyerahkan.

Sementara itu, Telkomsel dan Telkom dengan tegas menolak menyerahkan DPI tersebut karena tidak setuju dengan perhitungan tarif interkoneksi yang baru.

Baca: Ini Alasan Telkomsel Belum Serahkan DPI

Turina berpendapat, bila masih ada operator yang belum mengajukan DPI, artinya proses pembahasan interkoneksi akan mandek. Operator yang sudah menyerahkan DPI pun tidak bisa membahas perjanjian kerja sama interkoneksi karena belum ada kesepakatan terhadap acuan tarif dari pemerintah.

CEO Indosat Alexander Rusli, dalam kesempatan berbeda, juga mengatakan hal serupa. Dia mengaku akan segera mengirimkan surat pada BRTI supaya meminta DPI dari dua operator yang belum menyerahkannya.

“Kami juga akan kirim surat hari ini ke BRTI supaya mereka meminta kepada operator yang belum submit, untuk masukkan DPI. Itu tugas BRTI sebagai regulator,” ujar Alex.

Tarif interkoneksi merupakan biaya yang dibayarkan antar-operator. Misalnya, saat pengguna operator A menelepon operator B, maka operator A dikenai tarif interkoneksi sesuai dengan perhitungan yang berlaku. Namun, tarif interkoneksi hanya merupakan salah satu komponen penentu tarif telepon retail.

Sebelumnya, Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemenkominfo) pada 2 Agustus 2016 lalu merilis Surat Edaran (SE) No. 1153/M.Kominfo/PI.0204/08/2016 yang merinci perhitungan tarif interkoneksi baru. Terdapat penurunan rata-rata 26 persen pada 18 skenario panggilan seluler, baik telepon atau SMS.

Setelah perilisan SE tersebut, para operator diminta untuk membuat DPI dan menyerahkannya pada pemerintah. DPI ini nantinya akan dibagikan pada masing-masing operator

Plt Kepala Pusat Informasi dan Humas Kemenkominfo Noor Iza, pada Kamis (1/9/2016), menyatakan bahwa SE tersebut ditunda dengan alasan ada operator yang belum menyerahkan DPI, yaitu Telkom dan Telkomsel. Selain itu, Noor juga mengatakan bahwa penundaan dilakukan sesuai kesepakatan hasil rapat dengan Komisi 1 Dewan Perwakilan Rakyat (DPR).

Mengintip Kotak Kemasan Galaxy Note 7

Galaxy Note 7 telah melalui masa pre-order di Indonesia pada 5 Agustus hingga 21 Agustus lalu. Belakangan, tanggal pengambilan unit ditunda dari awalnya hari ini, 1 September, menjadi 17 September.

Samsung rupanya kesulitan memenuhi animo konsumen yang jauh melebihi perkiraan. Penundaan serupa juga terjadi di negara-negara lain di luar Indonesia.

Baca: Galaxy Note 7 Batal Datang 1 September, Ini Kata Samsung Indonesia

Meski demikian, KompasTekno masih cukup beruntung memperoleh Galaxy Note 7 yang terbungkus dalam kemasan ritel.

Perlu ditambahkan bahwa Galaxy Note 7 yang dikirimkan Samsung ke KompasTekno sebenarnya bukan unit ritel untuk pasar Indonesia.

Oleh karena itu, terdapat perbedaan seperti charger yang menggunakan colokan listrik berkaki tiga. Charger untuk Galaxy Note 7 dalam kemasan ritel di Indonesia bakal menggunakan colokan listrik standar dengan dua kaki.

Di luar perbedaan tersebut, kelengkapan lain seharusnya tetap sama. Nah, apa saja yang disertakan Samsung dalam kemasan Galaxy Note 7? Simak penelusurannya dalam rangkaian foto di bawah.